๐ฐ๐๐๐-๐๐๐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐ ๐๐ ๐๐๐ง๐๐๐๐๐ก ๐ฃ๐จ๐๐ฆ๐ ๐๐๐ ๐ฒ ๐ฃ๐๐ฅ๐๐๐ฅ๐
๐Serial kitab PANDUAN PUASA al-Wajiiz Fii Fiqhis Sunnati wal Kitaabil 'Aziiz
Karya Syaikh dokter 'Abdul 'Azhim Badawi al-Khalafi Hafizhahullah
๐ฐ๐๐๐-๐๐๐ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐ ๐๐ ๐๐๐ง๐๐๐๐๐ก ๐ฃ๐จ๐๐ฆ๐ ๐๐๐ ๐ฒ ๐ฃ๐๐ฅ๐๐๐ฅ๐
✅Pertama dan Kedua, makan dan minum dengan sengaja.
Jika seseorang makan atau minum dalam keadaan lupa maka tidak ada qada baginya dan juga tidak membayar kafarah/denda.
Dalilnya sebagaimana hadits dari abu hurairah radhiyallahu 'anhu , nabi ๏ทบ bersabda,
ู َْู َูุณَِู ََُููู ุตَุงุฆِู ٌ, َูุฃَََูู ุฃَْู ุดَุฑِุจَ, َُْูููุชِู َّ ุตَْูู َُู, َูุฅَِّูู َุง ุฃَุทْุนَู َُู ุงََُّููู َูุณََูุงُู – ู ُุชٌََّูู ุนََِْููู
“Barangsiapa yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya karena kala itu Allah yang memberi ia makan dan minum.”
(Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1933 dan Muslim no. 1155).
✅Ketiga, muntah dengan sengaja. Jika muntah dengan tidak sengaja maka tidak ada kewajiban qada dan tidak perlu membayar kafarah.
Dalilnya hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ู َْู ุฐَุฑَุนَُู َْููุกٌ ََُููู ุตَุงุฆِู ٌ ََْูููุณَ ุนََِْููู َูุถَุงุกٌ َูุฅِِู ุงุณْุชََูุงุกَ ََْْููููุถِ
“Barangsiapa yang muntah menguasainya (muntah tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.”
(HR. Abu Daud, no. 2380; Ibnu Majah, no. 1676; Tirmidzi, no. 720. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
✅Keempat dan Kelima, haid dan nifas meskipun menjelang berbuka puasa mengingat adanya kesepakatan ulama tentang hal tersebut.
✅Keenam, hubungan suami istri. Orang yang melakukannya wajib untuk membayar kafarah sebagaimana disebutkan dalam hadits ini,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
ุจََْููู َุง َูุญُْู ุฌُُููุณٌ ุนِْูุฏَ ุงَّููุจِِّู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ุฅِุฐْ ุฌَุงุกَُู ุฑَุฌٌُู ، ََููุงَู َูุง ุฑَุณَُูู ุงَِّููู ََْูููุชُ . َูุงَู « ู َุง ََูู » . َูุงَู ََููุนْุชُ ุนََูู ุงู ْุฑَุฃَุชِู َูุฃََูุง ุตَุงุฆِู ٌ . ََููุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – « َْูู ุชَุฌِุฏُ ุฑََูุจَุฉً ุชُุนْุชَُِููุง » . َูุงَู ูุงَ . َูุงَู « ََْููู ุชَุณْุชَุทِูุนُ ุฃَْู ุชَุตُูู َ ุดَْูุฑَِْูู ู ُุชَุชَุงุจِุนَِْูู » . َูุงَู ูุงَ . ََููุงَู « ََْููู ุชَุฌِุฏُ ุฅِุทْุนَุงู َ ุณِุชَِّูู ู ِุณًِْูููุง » . َูุงَู ูุงَ . َูุงَู َูู ََูุซَ ุงَّููุจُِّู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ، َูุจََْููุง َูุญُْู ุนََูู ุฐََِูู ุฃُุชَِู ุงَّููุจُِّู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ุจِุนَุฑٍَู َِูููุง ุชَู ْุฑٌ – َูุงْูุนَุฑَُู ุงْูู ِْูุชَُู – َูุงَู « ุฃََْูู ุงูุณَّุงุฆُِู » . ََููุงَู ุฃََูุง . َูุงَู « ุฎُุฐَْูุง َูุชَุตَุฏَّْู ุจِِู » . ََููุงَู ุงูุฑَّุฌُُู ุฃَุนََูู ุฃََْููุฑَ ู ِِّูู َูุง ุฑَุณَُูู ุงَِّููู ََููุงَِّููู ู َุง ุจََْูู ูุงَุจَุชََْููุง – ُูุฑِูุฏُ ุงْูุญَุฑَّุชَِْูู – ุฃَُْูู ุจَْูุชٍ ุฃََْููุฑُ ู ِْู ุฃَِْูู ุจَْูุชِู ، َูุถَุญَِู ุงَّููุจُِّู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ุญَุชَّู ุจَุฏَุชْ ุฃََْููุงุจُُู ุซُู َّ َูุงَู « ุฃَุทْุนِู ُْู ุฃَََْููู »
“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.”
(HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111).
Kesimpulan kiffarah jimak di siang hari bulan Ramadhan :
✓Memerdekakan budak jika punya,
✓jika tidak maka berpuasa dua bulan berturut-turut,
✓jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin.
๐al-Wajiiz Fii Fiqhis Sunnati wal Kitaabil 'Aziiz. Hal. 238-239 Cetakan Daar ibn hazm.
Diterjemah oleh : Abu fahry
◻️◻️◻️

Komentar
Posting Komentar