๐ฐ๐ช๐๐ก๐๐ง๐ ๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐ก ๐ ๐๐ก๐ฌ๐จ๐ฆ๐จ๐
๐Serial kitab PANDUAN PUASA al-Wajiiz Fii Fiqhis Sunnati wal Kitaabil 'Aziiz
Karya Syaikh dokter 'Abdul 'Azhim Badawi al-Khalafi Hafizhahullah
๐ฐ๐ช๐๐ก๐๐ง๐ ๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐ก ๐ ๐๐ก๐ฌ๐จ๐ฆ๐จ๐
Jika wanita hamil dan menyusui tidak mampu berpuasa atau khawatir terhadap anaknya jika berpuasa, maka boleh bagi keduanya untuk berbuka.
Dan wajib bagi keduanya untuk membayar fidyah namun tidak ada kewajiban qadho' bagi keduanya.
Dalam riwayat yang shohih dari ibnu abbas radhiyallahu 'anhu :
ุฑุฎุต ููุดูุฎ ุงููุจูุฑ، ูุงูุนุฌูุฒ ุงููุจูุฑุฉ ูู ุฐูู ููู ุง ูุทููุงู ุงูุตูู ุฃู ููุทุฑุง ุฅู ุดุงุกุง، ููุทุนู ุง ูู ููู ู ุณูููุง، ููุง ูุถุงุก ุนูููู ุง، ุซู ูุณุฎ ุฐูู ูู ูุฐู ุงูุขูุฉ: ﴿َูู َْู ุดَِูุฏَ ู ُِْููู ُ ุงูุดَّْูุฑَ ََْูููุตُู ُْู﴾ [ุงูุจูุฑุฉ: 185]، ูุซุจุช ููุดูุฎ ุงููุจูุฑ ูุงูุนุฌูุฒ ุงููุจูุฑุฉ ุฅุฐุง ูุงูุง ูุง ูุทููุงู ุงูุตูู ، ูุงูุญุจูู ูุงูู ุฑุถุน ุฅุฐุง ุฎุงูุชุง ุฃูุทุฑุชุง، ูุฃุทุนู ุชุง ูู ููู ู ุณูููุง
“Diberi keringanan bagi pria dan wanita yang lanjut usia dalam hal itu – sedangkan keduanya mampu puasa – untuk tidak berpuasa jika keduanya mau dan memberi makan (fidyah) satu orang miskin untuk satu hari (yang tidak berpuasa padanya), dan tidak ada kewajiban qodho’ bagi keduanya. Lalu (ketentuan ini) di-mansukh dengan ayat,
َูู َْู ุดَِูุฏَ ู ُِْููู ُ ุงูุดَّْูุฑَ ََْูููุตُู ُْู
Dan hukumnya tetap berlaku (yaitu, menunaikan fidiah) bagi pria dan wanita lanjut usia apabila keduanya tidak mampu puasa, serta wanita hamil dan menyusui yang khawatir (terhadap janin atau bayinya), maka keduanya (mendapatkan uzur) tidak berpuasa dan (wajib) memberi makan (fidiah) satu orang miskin untuk satu hari (yang keduanya tidak berpuasa padanya).”
(Dengan sanad yang shohih), ibnu jarir ath-thobari 2/135)
Riwayat lain yang sanadnya sahih, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
ุฅِุฐَุง ุฎَุงَูุชِ ุงูุญَุงู ُِู ุนََูู َْููุณَِูุง َูุงูู ُุฑْุถِุนُ ุนََูู ََููุฏَِูุง ِูู ุฑَู َุถَุงَู
“Apabila wanita hamil mengkhawatirkan dirinya dan wanita menyusui mengkhawatirkan bayinya di bulan Ramadhan.”
ُْููุทِุฑَุงِู، َُููุทْุนِู َุงِู ู ََูุงَู ُِّูู َْููู ٍ ู ِุณًِْูููุง، ََููุง َْููุถَِูุงِู ุตَْูู ًุง
“Keduanya (memiliki uzur untuk) tidak puasa dan (wajib) memberi makan untuk setiap hari (yang keduanya tidak berpuasa) kepada satu orang miskin dan keduanya tidak usah meng-qodho’ puasa”
(Shohih, al-bani dalam al-irwaa 4/19, ath-thobari 2758, sanadnya shohih sesuai syarat muslim)
Dari naafi' ia berkata,
ูุงูุช ุจูุชٌ ูุงุจู ุนู ุฑ ุชุญุช ุฑุฌู ู ู ูุฑูุด. ู ูุงูุช ุญุงู ูุง، ูุฃุตุงุจูุง ุนุทุด ูู ุฑู ุถุงู، ูุฃู ุฑูุง ุงุจู ุนู ุฑ ุฃู ุชُูุทุฑ، ู ุชُุทุนู ุนู ّูู ููู ู ุณูููุง
Ibnu Umar memiliki seorang putri yang menikah dengan seorang pria Quraisy. Putrinya sedang hamil dan dia sangat kehausan pada bulan Ramadan, sehingga Ibnu Umar memerintahkannya untuk berbuka puasa dan memberi makan seorang fakir miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan."
(Dengan sanad yang shohih, al-irwaa 4/20)
๐al-Wajiiz Fii Fiqhis Sunnati wal Kitaabil 'Aziiz. Hal. 236-237 Cetakan Daar ibn hazm.
Diterjemah oleh : Abu fahry
◻️◻️◻️

Komentar
Posting Komentar