﷽

🔰𝗕𝗘𝗥𝗦𝗘𝗚𝗘𝗥𝗔 𝗠𝗘𝗟𝗔𝗞𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗔𝗠𝗔𝗟 𝗦𝗛𝗢𝗟𝗜𝗛 𝗦𝗘𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗗𝗔𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗙𝗜𝗧𝗡𝗔𝗛

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“ 𝗕𝗘𝗥𝗦𝗘𝗚𝗘𝗥𝗔𝗟𝗔𝗛 melakukan amalan sholih sebelum datang 𝗙𝗜𝗧𝗡𝗔𝗛 (𝗺𝘂𝘀𝗶𝗯𝗮𝗵) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada 𝘄𝗮𝗸𝘁𝘂 𝗽𝗮𝗴𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝘀𝗼𝗿𝗲 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗳𝗶𝗿。

Ada pula yang 𝘀𝗼𝗿𝗲 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗽𝗮𝗴𝗶 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗸𝗮𝗳𝗶𝗿。

Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” 

(HR. Muslim no. 118).

Hadits ini berisi perintah untuk melakukan amal sholih.

Syaikh muhammad bin shalih al-'Utsaimin rahimahullah mengatakan :

" Amal sholih itu adalah amal yang terkumpul didalamnya ikhlas dan muttaba'ah (mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ)"

Oleh karena itu sebagian salaf mengatakan ,

العمل الصالح ماكان خالصا صواب ، أی : خالصا للّه صوابا علیٰ شريعة اللّه 

Amal sholih itu amal yang apabila dilakukan dengan ikhlas dan benar, yaitu ikhlas semata karena Allah dan benar karena mencocoki syari'at Allah.

Dalam hadits ini dikabarkan bahwa akan datang fitnah seperti potongan malam. Artinya fitnah tersebut tidak terlihat. Ketika itu manusia tidak tahu ke manakah mesti berjalan. Ia tidak tahu di manakah tempat keluar.

Fitnah boleh jadi karena syubuhaat (racun pemikiran), boleh jadi timbul dari syahwat (dorongan hawa nafsu untuk bermaksiat).

Fitnah di atas itu diibaratkan dengan potongan malam yang sekali lagi tidak diketahui. Sehingga seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Dalam satu hari, bayangkanlah ada yang bisa demikian. Atau ia di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi harinya kafir. Mereka bisa menjadi kafir karena menjual agamanya.

Bagaimanakah bisa menjual agama?  Menjual agama yang dimaksud di sini adalah menukar agama dengan harta, kekuasaan, kedudukan atau bahkan dengen perempuan.

Referensi :

Syarh Riyadhish Sholihin dan syarh Arba'in An-Nawawi Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin

Diterjemah dan disusun oleh : Abu Fahry


◻️◻️◻️◻️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

⚠️ 𝗠𝗨𝗦𝗜𝗞 𝗔𝗗𝗔𝗟𝗔𝗛 𝗗𝗜𝗔𝗡𝗧𝗔𝗥𝗔 𝗦𝗘𝗕𝗔𝗕 𝗧𝗨𝗥𝗨𝗡𝗡𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗡𝗖𝗔𝗡𝗔

Seputar kebiasaan sholat di masyarakat kita

⚠️ 𝗛𝗨𝗞𝗨𝗠 𝗕𝗘𝗥𝗞𝗨𝗡𝗝𝗨𝗡𝗚 𝗞𝗘 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗡𝗔𝗦𝗥𝗔𝗡𝗜 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗨𝗖𝗔𝗣𝗞𝗔𝗡 '𝗦𝗘𝗟𝗔𝗠𝗔𝗧 𝗡𝗔𝗧𝗔𝗟'