Serial kitab
"Ahkaamul Janaaiz wa bida'uha"
Karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Rahimahullah
๐ฐ ๐ฃ๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐๐ฅ๐๐ก๐๐ ๐๐๐ก๐๐ญ๐๐ ๐ฆ๐๐ ๐ฃ๐๐ ๐ฆ๐๐๐๐ฆ๐๐ ๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ก
Syaikh al-Albani Rahimahullah mengatakan, mengiringi jenazah itu ada dua tingkatan :
1- Mengiringi jenazah mulai dari rumah keluarga mayat sampai mensholatkannya.
2- Mengiringi jenazah mulai dari rumah keluarga mayat sampai selesai pemakamannya.
Dan kedua tingkatan tersebut pernah dilakukan Rasulullah ๏ทบ, abu sa'id al-khudri radhilayallahu 'anhu meriwayatkan,
" Kami mendahului nabi ๏ทบ memasuki kota madinah, ketika diberitakan kepada kami ada yang sakit, kami memberi kabar kepada nabi ๏ทบ, lalu beliau mendatanginya dan memohonkan ampunan baginya.
Dan ketika telah wafat, nabi ๏ทบ dan orang-orang yang bersamanya pergi hingga mayat tersebut dimakamkan, barangkali yang demikian menyita waktu nabi ๏ทบ, dan kami khawatir hal ini menyulitkan nabi ๏ทบ.
Berkatalah seseorang kepada yang lain, kalo saja kita memberi kabar nabi ๏ทบ hingga telah nyata kematiannya, barangkali hal ini tidak akan menyita waktunya atau membuat beliau tidak nyaman, kami juga pernah mengalami demikian, ketika berita kematian sampai kepada kami maka kami segera kabarkan kepada beliau. Kemudian mendatanginya dan mensholatinya.
Kadangkala beliau beranjak setelah menshalatinya , kadang kala beliau duduk menunggu lalu mengantarnya sampai selesai pemakaman mayit, kami pun kadang kala melakukan sebagaimana yang dilakukan nabi ๏ทบ, kemudian kami katakan, kalau nabi ๏ทบ tidak muncul dihadapan kami, lalu kami bawa jenazah kehadapan beliau ๏ทบ lalu beliau menshalatinya di rumahnya tentu ini lebih berkenan baginya, dab hal itu berjalan hingga hari ini.
(HR. Ibnu hibban, al-Hakim, al-baihaqi, ahmad)
Dalam hal ini tidak diragukan bahwa tingkatan mengiringi jenazah yang kedua ini lebih utama daripada tingkatan yang pertama berdasarkan sabda nabi ๏ทบ.
ู َْู ุดَِูุฏَ ุงูุฌََูุงุฒَุฉَ ุญَุชَّู ُูุตََِّูู، ََُููู ِููุฑَุงุทٌ، َูู َْู ุดَِูุฏَ ุญَุชَّู ุชُุฏََْูู َูุงَู َُูู ِููุฑَุงุทَุงِู ، َِููู: َูู َุง ุงِูููุฑَุงุทَุงِู؟ َูุงَู: ู ِุซُْู ุงูุฌَุจََِْููู ุงูุนَุธِูู َِْูู
“Barangsiapa yang ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ท๐ฒ๐ป๐ฎ๐๐ฎ๐ต ๐ต๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ฎ ๐ถ๐ธ๐๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐น๐ฎ๐๐ธ๐ฎ๐ป๐ป๐๐ฎ❟ maka baginyq ๐ฝ๐ฎ๐ต๐ฎ๐น๐ฎ ๐๐ฎ๐๐ ๐พ๐ถ๐ฟ๐ฎ๐๐ต。 Dan barangsiapa yang ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ฎ๐ธ๐๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ท๐ฒ๐ป๐ฎ๐๐ฎ๐ต ๐ต๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ฎ ๐ถ๐ธ๐๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐๐ฏ๐๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป๐ป๐๐ฎ❟ maka baginya ๐ฝ๐ฎ๐ต๐ฎ๐น๐ฎ ๐ฑ๐๐ฎ ๐พ๐ถ๐ฟ๐ฎ๐๐ต。” Ditanyakan kepada beliau ❟ “Apa yang dimaksud dengan dua qirath ? ” Beliau menjawab ❟ “๐ฆ๐ฒ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ถ ๐ฑ๐๐ฎ ๐ด๐๐ป๐๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐๐ฎ๐ฟ。”
(HR. Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945, dari sahabat abu hurairah radhiyallahu 'anhu)
Ahkaamul Janaaiz wa bida'uha"
Karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Rahimahullah, hal : 87-88
Bersambung insya Allah
Terjemah : abu fahry
➖➖➖

Komentar
Posting Komentar