Mana Yang Lebih Utama Berbuka atau Puasa ?

 📚Serial kitab PANDUAN PUASA al-Wajiiz Fii Fiqhis Sunnati wal Kitaabil 'Aziiz

Karya Syaikh dokter 'Abdul 'Azhim Badawi al-Khalafi Hafizhahullah


🔰𝗠𝗔𝗡𝗔 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗟𝗘𝗕𝗜𝗛 𝗨𝗧𝗔𝗠𝗔 𝗕𝗘𝗥𝗕𝗨𝗞𝗔 𝗔𝗧𝗔𝗨 𝗣𝗨𝗔𝗦𝗔 ?


Jika orang sakit dan musafir tidak menemukan kesulitan untuk berpuasa, maka berpuasa lebih utama. Namun jika keduanya menemukan kesulitan untuk berpuasa, maka berbuka lebih utama.


عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه: كنا نغزو مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في رمضان فمنا الصائم ومنا المفطر. فلا يجد الصائم على المفطر. ولا المفطر على الصائم. يرون أن من وجد قوة فصام، فإن ذلك حسن ويرون أن من وجد ضعفا فأفطر فإن ذلك حسنا.


Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata, 

“Kami dulu berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadan. Di antara kami ada yang berpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Orang yang berpuasa tidak memarahi orang yang tidak berpuasa begitu pula sebaliknya. Kami berpendapat bahwa barang siapa yang merasa mampu kemudian berpuasa maka hal itu baik. Dan kami juga berpendapat bahwa barang siapa yang merasa lemah kemudian tidak berpuasa maka hal itu juga baik.” 

[Diriwayatkan oleh Muslim no. 1116 dan At-Tirmidzi no. 713].


Adapun tentang tidak wajibnya berpuasa bagi wanita yang sedang haid dan nifas adalah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 


أليس إذا حاضت لم تُصل و لم تصُم ؟ فذلك تُقصان دينها 


“Bukankah jika wanita sedang haid tidak boleh salat dan berpuasa? Maka itulah kekurangan agamanya.” 

(HR. Bukhari)


Jika wanita yang sedang haid dan nifas berpuasa, maka puasanya tidak sah. 

Karena suci dari haid dan nifas termasuk salah satu syarat puasa sehingga wajib bagi keduanya untuk meng-qada’ puasanya.


 ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, 


كُنا نحيض علی رسول الله ﷺ فنُؤمر بقضاء الصوم ، ولا نُؤمر بقضاء الصلاة



“Dulu kami mengalami haid di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kami diperintahkan untuk meng-qada’ puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qada’ salat.” 

(Sahih. Sahih Tirmidzi)


📚al-Wajiiz Fii Fiqhis Sunnati wal Kitaabil 'Aziiz. Hal.235-236 Cetakan Daar ibn hazm.


Diterjemah oleh : Abu fahry


◻️◻️◻️


Komentar

Postingan populer dari blog ini

⚠️ 𝗠𝗨𝗦𝗜𝗞 𝗔𝗗𝗔𝗟𝗔𝗛 𝗗𝗜𝗔𝗡𝗧𝗔𝗥𝗔 𝗦𝗘𝗕𝗔𝗕 𝗧𝗨𝗥𝗨𝗡𝗡𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗡𝗖𝗔𝗡𝗔

Seputar kebiasaan sholat di masyarakat kita

⚠️ 𝗛𝗨𝗞𝗨𝗠 𝗕𝗘𝗥𝗞𝗨𝗡𝗝𝗨𝗡𝗚 𝗞𝗘 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗡𝗔𝗦𝗥𝗔𝗡𝗜 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗨𝗖𝗔𝗣𝗞𝗔𝗡 '𝗦𝗘𝗟𝗔𝗠𝗔𝗧 𝗡𝗔𝗧𝗔𝗟'