๐ฐ๐'๐ง๐๐๐๐ (Bab penutup)
๐Serial kitab PANDUAN PUASA al-Wajiiz Fii Fiqhis Sunnati wal Kitaabil 'Aziiz
Karya Syaikh dokter 'Abdul 'Azhim Badawi al-Khalafi Hafizhahullah
๐ฐ๐'๐ง๐๐๐๐
(Bab penutup)
I’tikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan adalah sunah yang sangat dianjurkan untuk mencari kebaikan dan mencari malam Lailatul Qadar.
ุฅَِّูุงٓ ุฃَูุฒََُْٰููู ِูู ََْูููุฉِ ูฑَْููุฏْุฑِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya
(Al Quran) pada malam kemuliaan.
َูู َุงٓ ุฃَุฏْุฑََٰูู ู َุง ََْูููุฉُ ูฑَْููุฏْุฑِ
2- Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
ََْูููุฉُ ูฑَْููุฏْุฑِ ุฎَْูุฑٌ ู ِّْู ุฃَِْูู ุดَْูุฑٍ
3- Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
ุชََูุฒَُّู ูฑْูู ََٰูุٓฆَِูุฉُ َููฑูุฑُّูุญُ َِูููุง ุจِุฅِุฐِْู ุฑَุจِِّูู ู ِّู ُِّูู ุฃَู ْุฑٍ
4- Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
ุณََٰูู ٌ َِูู ุญَุชَّٰู ู َุทَْูุนِ ูฑَْููุฌْุฑِ
5- Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
(Qs. Al-Qadr :1-5)
‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadan.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
ุชุญุฑُّูุง ูููุฉ ุงููุฏุฑ ูู ุงูุนุดุฑ ุงูุฃูุงุฎุฑ ู ู ุฑู ุถุงู
‘Carilah malam Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.'”
(HR. Bukhari).
‘Aisyah juga berkata,
ุชุญุฑّูุง ูููุฉ ุงููุฏุฑ ูู ุงููุชุฑ ู ูุงูุนุดุฑ ุงูุฃูุงุฎุฑ ู ู ุฑู ุถุงู
“Carilah malam Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.”
(Muttafaq ‘alaih)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendorong dan memotivasi umatnya untuk mencarinya.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ู ู ูุงู ูููุฉ ุงููุฏุฑ ุฅูู ุงูุง ูุงุญุชุณุงุจุง ุบูุฑ ูู ู ุง ุชูุฏّู ู ูุฐูุจู
“Barang siapa yang melaksanakan salat pada malam Qadar karena keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu pasti diampuni.”
(Muttafaqun ‘alaih)
I’tikaf tidak boleh dilakukan kecuali di dalam masjid karena firman Allah Ta’ala,
َููุงَ ุชُุจَุงุดِุฑَُُّููู َูุฃَูุชُู ْ ุนَุงَُِูููู ِูู ุงْูู َุณَุงุฌِุฏِ
“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, pada saat kamu ber-i’tikaf di dalam masjid.”
(QS. Al Baqarah: 187)
Dan juga karena masjid adalah tempat Nabi bert-i’tikaf.
Dianjurkan bagi orang yang beri’tikaf untuk menyibukkan dirinya dengan amal ketaatan kepada Allah seperti salat; membaca Al Quran; berzikir, selawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; dan sebagainya.
Dimakruhkan bagi orang yang beri’tikaf untuk menyibukkan dirinya dengan perkataan atau perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Sebagaimana dimakruhkan pula menahan diri dari berbicara karena menyangka bahwa hal tersebut mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
(Fiqhus Sunnah 1/404).
Dan diperbolehkan untuk keluar dari tempat beri’tikaf karena ada kebutuhan yang harus dilaksanakan. Sebagaimana diperbolehkan juga untuk menyisir rambut, mencukur rambut kepala, memotong kuku dan membersihkan badan. I’tikaf batal apabila seseorang keluar tanpa ada keperluan atau berhubungan suami istri.
Alhamdulillaahilladzii bi ni’matihi tatimmush shalihaat.
===SELESAI===
๐al-Wajiiz Fii Fiqhis Sunnati wal Kitaabil 'Aziiz. Hal. 249-250Cetakan Daar ibn hazm.
Diterjemah oleh : Abu fahry
◻️◻️◻️

Komentar
Posting Komentar