🌷𝗕𝗘𝗥𝗦𝗘𝗚𝗘𝗥𝗔 𝗠𝗘𝗠𝗕𝗔𝗬𝗔𝗥 𝗛𝗨𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗨𝗔𝗦𝗔 𝗗𝗜 𝗕𝗨𝗟𝗔𝗡 𝗥𝗔𝗝𝗔𝗕

 


🌷𝗕𝗘𝗥𝗦𝗘𝗚𝗘𝗥𝗔 𝗠𝗘𝗠𝗕𝗔𝗬𝗔𝗥 𝗛𝗨𝗧𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗨𝗔𝗦𝗔 𝗗𝗜 𝗕𝗨𝗟𝗔𝗡 𝗥𝗔𝗝𝗔𝗕

Oleh : Abu Fahry

Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Bulan Rajab seringkali dijadikan momen untuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci penuh keberkahan.
Salah satu langkah penting yang sebaiknya dilakukan adalah melunasi utang puasa tahun sebelumnya. Meskipun tidak ada batas waktu khusus untuk mengganti puasa, menyelesaikan kewajiban ini sebelum Ramadhan tiba dapat memberikan ketenangan hati dan ghirah atau semangat untuk menyongsong bulan Ramadhan.

Dalam Al-Qur’an Allah Jalla wa 'ala telah memberikan keringanan bagi kaum muslimin yang tidak dapat menjalankan puasa Ramadan karena alasan tertentu, seperti sakit atau dalam perjalanan. Mereka diperbolehkan tidak berpuasa saat itu, tetapi diwajibkan menggantinya di hari lain di luar bulan Ramadan.

Allah Jalla wa 'ala berfirman,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

*◻️Aturan dalam mengqadha’ puasa :*

Pertama:

Qadha’ puasa tidak boleh dibatalkan kecuali jika ada uzur yang dibolehkan sebagaimana halnya puasa Ramadhan.

Kedua:

Tidak wajib membayar qadha’ puasa secara berturut-turut, boleh saja secara terpisah. Karena dalam ayat diperintahkan dengan perintah umum,

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Hendaklah mengqadha’ (mengganti puasanya) di hari lainnya.”
(QS. Al-Baqarah: 184, 185)

Ketiga:

Jika puasanya batal satu hari, maka qadha’nya juga satu hari, bukan dua hari sebagaimana anggapan sebagian orang.

Keempat:

Qadha’ puasa tetap wajib berniat di malam hari (sebelum Shubuh) sebagaimana kewajiban dalam puasa Ramadhan. Puasa wajib harus ada niat di malam hari sebelum Shubuh, berbeda dengan puasa sunnah yang boleh berniat di pagi hari.

Dalam hadits disebutkan,

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.”
(HR. An-Nasai, no. 2331, dari Hafshah binti ‘Umar, Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Kelima:

Ketika ada yang melakukan qadha’ puasa lalu berhubungan intim di siang harinya, maka tidak ada kewajiban kafarah, yang ada hanyalah qadha’ disertai dengan taubat. Kafarah berat (yaitu memerdekakan seorang budak, jika tidak mampu berarti berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu berarti memberi makan pada 60 orang miskin, pen.) hanya berlaku untuk puasa Ramadhan saja.

Dengan demikian, menjelang Ramadhan, umat Islam dapat memanfaatkan bulan Rajab untuk menyelesaikan hutang puasa, baik secara berturut-turut maupun tidak, dengan tetap memperhatikan sunnah-sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana, wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

◻️◻️◻️






Komentar

Postingan populer dari blog ini

⚠️ 𝗠𝗨𝗦𝗜𝗞 𝗔𝗗𝗔𝗟𝗔𝗛 𝗗𝗜𝗔𝗡𝗧𝗔𝗥𝗔 𝗦𝗘𝗕𝗔𝗕 𝗧𝗨𝗥𝗨𝗡𝗡𝗬𝗔 𝗕𝗘𝗡𝗖𝗔𝗡𝗔

Seputar kebiasaan sholat di masyarakat kita

⚠️ 𝗛𝗨𝗞𝗨𝗠 𝗕𝗘𝗥𝗞𝗨𝗡𝗝𝗨𝗡𝗚 𝗞𝗘 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗡𝗔𝗦𝗥𝗔𝗡𝗜 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗨𝗖𝗔𝗣𝗞𝗔𝗡 '𝗦𝗘𝗟𝗔𝗠𝗔𝗧 𝗡𝗔𝗧𝗔𝗟'