๐ŸŸก ๐——๐—ข๐—ฆ๐—” ๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐— ๐—˜๐—ก๐—๐—”๐——๐—œ ๐—๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ก ๐—ž๐—˜ ๐—ฆ๐—จ๐—ฅ๐—š๐—”

 ๐ŸŸก ๐——๐—ข๐—ฆ๐—” ๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐— ๐—˜๐—ก๐—๐—”๐——๐—œ ๐—๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ก ๐—ž๐—˜ ๐—ฆ๐—จ๐—ฅ๐—š๐—”


๐ŸŽ“Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

๐—๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ต๐—ฎ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ❟ ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ ๐——๐—ถ๐—ฎ ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฎ๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐˜❟ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป❟ ๐—ธ๐—ฒ๐—ต๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ❟ ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—ฏ๐˜‚๐˜๐˜‚๐—ต ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต❟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€-๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ผ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐˜ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ-๐—ก๐˜†๐—ฎ。 

๐—•๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป❟ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ผ๐˜€๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ถ๐—ฎ ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฏ ๐˜๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—บ๐—ฎ๐˜ ๐—”๐—น๐—น๐—ฎ๐—ต。


Setan pun menyesal dan berkata, 

“Seandainya aku biarkan dia, tak menjerumuskan dalam dosa itu!”


Ibnul Qayyim juga mengutip ucapan salaf:


“๐—”๐—ฑ๐—ฎ ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—ธ ๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐—ด๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฑ๐—ผ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ❟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—ธ ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—น ๐—ฏ๐—ฎ๐—ถ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ。”


Karena seseorang bisa saja berdosa, lalu terus mengingatnya, menangis, menyesal, takut kepada Allah, dan menjadi rendah hati. Rasa takut dan hina itu menjadi sebab ia makin dekat kepada Allah—bahkan lebih bermanfaat daripada amal-amal yang banyak.


Sebaliknya, ada orang yang beramal baik, tapi ia sombong, merasa paling hebat, membanggakan dirinya, dan ujub atas amalnya. Ini justru bisa menjadi sebab kehancurannya.


Jika Allah menghendaki kebaikan, Dia akan mengujinya agar rasa sombong itu patah. Namun jika tidak, Allah biarkan ia terjerumus dalam ujub dan kesombongan. Itulah bentuk kehinaan yang nyata.


Karena para ulama yang arif sepakat,


ุฃَู†َّ ุงู„ุชَّูˆْูِูŠู‚َ ุฃَู†ْ ู„َุง ูŠَูƒِู„َูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ุฅِู„َู‰ ู†َูْุณِูƒَ، ูˆَุงู„ْุฎِุฐْู„َุงู†َ ุฃَู†ْ ูŠَูƒِู„َูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ุฅِู„َู‰ ู†َูْุณِูƒَ.


Taufik adalah ketika Allah tidak menyerahkan dirimu pada dirimu sendiri.


Kehinaan adalah ketika Allah membiarkanmu mengandalkan dirimu sendiri. 


๐ŸŒท๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ-๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐˜ ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐——๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—บ๐—ฎ


๐ŸŽ“Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa taubat yang benar dan diterima memiliki beberapa tanda penting. Apa saja?


▪️1.  Kehidupannya setelah taubat lebih baik dari sebelumnya.


Ia semakin dekat dengan Allah, makin rajin ibadah, dan jauh dari maksiat.


▪️2. Rasa takut kepada Allah selalu menyertainya.


Ia tidak pernah merasa aman dari azab Allah, bahkan sekejap mata pun tidak.


Rasa takut itu hanya hilang ketika ruhnya dicabut, dan malaikat berkata:


ุฃَู„َّุง ุชَุฎَุงูُูˆุง ูˆَู„َุง ุชَุญْุฒَู†ُูˆุง ูˆَุฃَุจْุดِุฑُูˆุง ุจِุงู„ْุฌَู†َّุฉِ


“Jangan takut, jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan.” 

(QS. Fuแนฃแนฃilat: 30)


▪️3. Hatinya remuk karena penyesalan.


Semakin besar dosa, semakin besar pula penyesalannya.


Inilah makna ayat:


ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْ ุชَู‚َุทَّุนَ ู‚ُู„ُูˆุจُู‡ُู…ْ


— “hingga hati mereka hancur berkeping-keping” 

(QS. At-Taubah: 110), kata Ibn ‘Uyainah, maksudnya: hancur karena taubat.


Kalau hati tak hancur karena dosa saat di dunia, pasti akan hancur di akhirat ketika melihat pahala orang-orang taat dan siksa bagi para pendosa.


▪️4. Ia merasakan kehancuran hati yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang benar-benar bertaubat.


Rasa ini tak bisa muncul karena lapar, olahraga, atau sekadar cinta.


Itu adalah kehancuran total: hati yang rebah di hadapan Allah, seperti budak yang tertangkap setelah melarikan diri.


Ia sadar: hidup dan keselamatannya hanya ada dalam ridha Tuhannya, yang mengetahui seluruh dosanya. Ia lemah, Allah Maha Kuat. Ia hina, Allah Maha Mulia.


Dari sini lahir rasa hancur dan tunduk yang paling dalam—dan inilah yang paling dicintai oleh Allah.


Lalu ia pun berkata dengan penuh ketulusan:


“Ya Allah, demi kemuliaan-Mu dan kehinaanku, kasihanilah aku. Demi kekuatan-Mu dan kelemahanku, demi kekayaan-Mu dan kefakiranku…


Tak ada tempat lari dari-Mu kecuali hanya kembali kepada-Mu…


Inilah ubun-ubunku yang berdosa di hadapan-Mu… Aku hanyalah hamba-Mu yang tak punya siapa-siapa selain Engkau…”


๐ŸŒทPenutup

Inilah tanda-tanda taubat yang benar.


Jika kita belum merasakan itu semua dalam hati kita, jangan-jangan taubat kita masih belum sungguh-sungguh.


Betapa berat taubat yang sejati dalam kenyataan, dan betapa mudah diucapkan oleh lisan.


Taubat sejati bukan sekadar kata, tapi luka hati yang membawa kita pulang kepada Allah.


Referensi: Tulisan “Rahasia Taubat” di Islamweb


▪️▪️▪️▪️


Komentar

Postingan populer dari blog ini

⚠️ ๐— ๐—จ๐—ฆ๐—œ๐—ž ๐—”๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—› ๐——๐—œ๐—”๐—ก๐—ง๐—”๐—ฅ๐—” ๐—ฆ๐—˜๐—•๐—”๐—• ๐—ง๐—จ๐—ฅ๐—จ๐—ก๐—ก๐—ฌ๐—” ๐—•๐—˜๐—ก๐—–๐—”๐—ก๐—”

Seputar kebiasaan sholat di masyarakat kita

⚠️ ๐—›๐—จ๐—ž๐—จ๐—  ๐—•๐—˜๐—ฅ๐—ž๐—จ๐—ก๐—๐—จ๐—ก๐—š ๐—ž๐—˜ ๐—ข๐—ฅ๐—”๐—ก๐—š ๐—ก๐—”๐—ฆ๐—ฅ๐—”๐—ก๐—œ ๐—จ๐—ก๐—ง๐—จ๐—ž ๐— ๐—˜๐—ก๐—š๐—จ๐—–๐—”๐—ฃ๐—ž๐—”๐—ก '๐—ฆ๐—˜๐—Ÿ๐—”๐— ๐—”๐—ง ๐—ก๐—”๐—ง๐—”๐—Ÿ'