๐ก ๐ง๐๐๐๐ ๐๐๐ฅ๐ฃ๐จ๐๐ฆ๐ ๐๐๐ก๐๐๐ก ๐๐๐๐ฆ๐๐ก ๐ ๐๐ก๐๐๐ฅ๐ ๐ก๐๐๐๐๐
๐ Serial kitab fatwa-fatwa seputar puasa
๐ก ๐ง๐๐๐๐ ๐๐๐ฅ๐ฃ๐จ๐๐ฆ๐ ๐๐๐ก๐๐๐ก ๐๐๐๐ฆ๐๐ก ๐ ๐๐ก๐๐๐ฅ๐ ๐ก๐๐๐๐๐
(UNTUK MENCUKUPI KELUARGA YANG BERADA DI BAWAH TANGGUNGANNYA)
Tanya # 05 :
๐ Ada seseorang yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan alasan untuk mencari nafkah keluarga, apa hukumnya?
Jawab :
Orang yang meninggalkan puasa di bulan Ramadhan dengan alasan untuk mencari nafkah keluarganya (ada dua macam, pen-):
๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ :
Dia meninggalkan puasa tersebut karena takwil (salah paham), dia kira hal ini sama dengan orang yang sakit yang boleh untuk tidak berpuasa. Orang yang salah paham seperti ini wajib untuk mengganti puasa di hari yang lain jika masih hidup. Jika sudah meninggal dunia maka walinya yang memuasakannya.
Jika walinya tidak memuasakannya maka diganti dengan memberi makan setiap hari seorang miskin.
๐๐ฒ๐ฑ๐๐ฎ :
Adapun jika dia meninggalkan puasa tanpa takwil (alasan diatas) maka menurut pendapat yang kuat dari para ulama bahwa setiap ibadah yang telah tertentu waktunya jika dilakukan di luar waktunya tanpa ada udzur maka tidak diterima.
Namun cukup baginya untuk (memperbanyak) amal shalih, amalan-amalan yang sunnah, dan istighfar. Dalil akan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ู ู ุนู ู ุนู ูุง ููุณ ุนููู ุฃู ุฑูุง ููู ุฑุฏ
“๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฎ๐น (๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ต) ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐๐๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐๐ป๐๐๐ป๐ฎ๐ป๐ธ๐ ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ผ๐น๐ฎ๐ธ。”
(HR. Muslim)
Ibadah yang sudah tertentu waktunya tidak boleh dilakukan sebelum datang waktunya. Maka demikian pula tidak boleh dilakukan setelah keluar waktunya. Adapun kalau ada udzur seperti ketidak tahuan atau kelupaan maka Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam telah bersabda:
ู ู ูุงู ุนู ุตูุงุฉ ุฃู ูุณููุง ูููุตููุง ุฅุฐุง ุฐูุฑูุง ูุง ููุงุฑุฉ ููุง ุฅูุง ุฐูู
“๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ฑ๐๐ฟ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ต๐ฎ๐น๐ฎ๐๐ป๐๐ฎ ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐น๐๐ฝ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ ๐ต๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ธ๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐บ๐ฒ๐น๐ฎ๐ธ๐๐ฎ๐ป๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐ป๐๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐。 ๐๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐ธ๐ฎ๐ณ๐ณ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฒ๐ฐ๐๐ฎ๐น๐ถ ๐ถ๐๐ ๐๐ฎ๐ท๐ฎ。”
(HR. Muslim).
Meskipun masalah ketidak tahuan itu masih butuh perincian dan sekarang bukan waktunya untuk memperinci hal tersebut.
Referensi :
๐Kitab fataawa arkaanil islaam, hal. 334 Cet. Daarul ummati lin nasyri wat tauzii'
Karya Syaikh muhammad bin sholih al-'Utsaimin Rahimahullah.
Diterjemahkan oleh :
Ustadz abu fahry hafizhahullah
▪️▪️▪️▪️

Komentar
Posting Komentar