๐ก๐ฃ๐๐ ๐๐๐ง๐๐-๐ฃ๐๐ ๐๐๐ง๐๐ ๐ฃ๐จ๐๐ฆ๐
๐Panduan puasa Ramadhan
๐Serial kitab Al-Fiqhul Muyassar fii Dhauil Kitab was Sunnah.
๐ก๐ฃ๐๐ ๐๐๐ง๐๐-๐ฃ๐๐ ๐๐๐ง๐๐ ๐ฃ๐จ๐๐ฆ๐
๐ทPembatal puasa adalah perkara-perkara yang meruksak dan membatalkan puasa orang yang berpuasa.
Orang yang berpuasa, puasanya batal dengan mengerjakan salah satu perkara berikut :
๐ญ。 ๐ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ ๐ถ๐ป๐๐บ ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฆ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ท๐ฎ,
Berdasarkan firman Allah Ta'ala,
َُُْููููุง َูุงุดْุฑَุจُْูุง ุญَุชّٰู َูุชَุจَََّูู َُููู ُ ุงْูุฎَْูุทُ ุงْูุงَุจَْูุถُ ู َِู ุงْูุฎَْูุทِ ุงْูุงَุณَْูุฏِ ู َِู ุงَْููุฌْุฑِۖ ุซُู َّ ุงَุชِู ُّูุง ุงูุตَِّูุงู َ ุงَِูู ุงَِّْูููۚ
" Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam."
(Qs. Al-Baqarah : 187)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang berpuasa dilarang makan dan minum dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari (malam), adapun orang yang makan dan minum karena lupa, maka puasanya tetap sah, dan dia wajib menahan diri (tidak makan dan tidak minum) ketika ingat, atau diingatkan bahwa dia sedang puasa, berdasarkan sabda nabi ๏ทบ,
ู ู ูุณู ููู ุตุงุฆู ูุฃูู ุฃู ุดุฑุจ ، ูููุชู ุตูู ู، ูุฅูู ุง ุฃุทุนู ู ุงّููู ู ุณูุงู
" ๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐น๐๐ฝ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐๐ฎ๐๐ฎ❟ ๐น๐ฎ๐น๐ ๐ถ๐ฎ ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐บ๐ถ๐ป๐๐บ❟ ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ ๐น๐ฎ๐ป๐ท๐๐๐ธ๐ฎ๐ป๐น๐ฎ๐ต ๐ฝ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐๐ฎ❟ ๐ธ๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ป๐ฎ ๐๐น๐น๐ฎ๐ต-๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ต ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐บ๐ถ๐ป๐๐บ。"
(Muttafaqun 'alaih, HR bukhari no. 1933, muslim no. 1155 dari abu hurairah radhiyallahu 'anhu)
๐ทPuasa juga batal disebabkan obat yang dituangkan kedalam hidung, dan disebabkan semua yang masuk kedalam perut, sekalipun bukan dari jalan mulut, dari hal-hal yang status hukumnya sama dengan makanan dan minuman, seperti suntik yang memberikan nutrisi.
๐ฎ。 ๐๐ถ๐บ๐ฎ๐ธ
Puasa batal dengan sebab hubungan intim suami-istri, barangsiapa yang berjimak sementara dia sedang puasa maka puasanya batal, dan dia wajib bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah, dan mengqadha puasa pada hari dia melakukan jimak, ditambah dengan kaffarat, yaitu memerdekakan budak, bila tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, bila tidak mampu mampu memberi makan 60 fakir miskin, berdasarkan hadits dari abu hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata,
ุจََْููู َุง َูุญُْู ุฌُُููุณٌ ุนِْูุฏَ ุงَّููุจِِّู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ุฅِุฐْ ุฌَุงุกَُู ุฑَุฌٌُู ، ََููุงَู َูุง ุฑَุณَُูู ุงَِّููู ََْูููุชُ . َูุงَู « ู َุง ََูู » . َูุงَู ََููุนْุชُ ุนََูู ุงู ْุฑَุฃَุชِู َูุฃََูุง ุตَุงุฆِู ٌ . ََููุงَู ุฑَุณُُูู ุงَِّููู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – « َْูู ุชَุฌِุฏُ ุฑََูุจَุฉً ุชُุนْุชَُِููุง » . َูุงَู ูุงَ . َูุงَู « ََْููู ุชَุณْุชَุทِูุนُ ุฃَْู ุชَุตُูู َ ุดَْูุฑَِْูู ู ُุชَุชَุงุจِุนَِْูู » . َูุงَู ูุงَ . ََููุงَู « ََْููู ุชَุฌِุฏُ ุฅِุทْุนَุงู َ ุณِุชَِّูู ู ِุณًِْูููุง » . َูุงَู ูุงَ . َูุงَู َูู ََูุซَ ุงَّููุจُِّู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ، َูุจََْููุง َูุญُْู ุนََูู ุฐََِูู ุฃُุชَِู ุงَّููุจُِّู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ุจِุนَุฑٍَู َِูููุง ุชَู ْุฑٌ – َูุงْูุนَุฑَُู ุงْูู ِْูุชَُู – َูุงَู « ุฃََْูู ุงูุณَّุงุฆُِู » . ََููุงَู ุฃََูุง . َูุงَู « ุฎُุฐَْูุง َูุชَุตَุฏَّْู ุจِِู » . ََููุงَู ุงูุฑَّุฌُُู ุฃَุนََูู ุฃََْููุฑَ ู ِِّูู َูุง ุฑَุณَُูู ุงَِّููู ََููุงَِّููู ู َุง ุจََْูู ูุงَุจَุชََْููุง – ُูุฑِูุฏُ ุงْูุญَุฑَّุชَِْูู – ุฃَُْูู ุจَْูุชٍ ุฃََْููุฑُ ู ِْู ุฃَِْูู ุจَْูุชِู ، َูุถَุญَِู ุงَّููุจُِّู – ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู – ุญَุชَّู ุจَุฏَุชْ ุฃََْููุงุจُُู ุซُู َّ َูุงَู « ุฃَุทْุนِู ُْู ุฃَََْููู »
“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.”
(HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111).
๐ทYang semakna dengan jimak adalah mengeluarkan mani secara sengaja.
Apabila orang yang sedang berpuasa mengeluarkan mani secara sengaja (karena kemauannya) melalui ciuman, atau sentuhan, atau onani atau selainnya maka puasanya batal, karena ini termasuk hawa nafsu yang membatalkan puasa, maka dia wajib mengqadha puasa tanpa kaffarat, karena kiffarat hanya wajib dengan sebab hubungan suami-istri saja, sebab adanya nash hadits yang menetapkannya secara khusus.
Adapun apabila orang berpuasa ia tidur lalu mimpi basah, atau maninya keluar tanpa disertai syahwat seperti orang yang sakit maka puasanya tidak batal, sebab keluar bukan atas keinginannya.
๐ฏ- ๐ ๐๐ป๐๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฆ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ท๐ฎ
Yaitu mengeluarkan isi perut yang berupa makanan atau minuman melalui mulut dengan sengaja.
Lain halnya jika seseorang tidak tahan untuk muntah sehingga ia keluar tanpa dikehendaki, maka ia tidak berdampak pada puasanya.
Berdasarkan sabda nabi ๏ทบ,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ู َْู ุฐَุฑَุนَُู َْููุกٌ ََُููู ุตَุงุฆِู ٌ ََْูููุณَ ุนََِْููู َูุถَุงุกٌ َูุฅِِู ุงุณْุชََูุงุกَ ََْْููููุถِ
“๐๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด๐๐ถ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐๐ป๐๐ฎ๐ต ๐บ๐ฒ๐ป๐ด๐๐ฎ๐๐ฎ๐ถ๐ป๐๐ฎ (๐บ๐๐ป๐๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ท๐ฎ) ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐ธ๐ฒ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐๐ฎ๐๐ฎ❟ ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ ๐พ๐ฎ๐ฑ๐ต๐ฎ’ ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ถ๐ป๐๐ฎ。 ๐ก๐ฎ๐บ๐๐ป ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ฏ๐ถ๐น๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐บ๐๐ป๐๐ฎ๐ต (๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ท๐ฎ)❟ ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ ๐๐ฎ๐ท๐ถ๐ฏ ๐ฏ๐ฎ๐ด๐ถ๐ป๐๐ฎ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ๐ฟ ๐พ๐ฎ๐ฑ๐ต๐ฎ’。”
(HR. Abu Daud, no. 2380; Ibnu Majah, no. 1676; Tirmidzi, no. 720. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
๐ฐ- ๐๐ฒ๐ธ๐ฎ๐บ
Mengeluarkan darah dari kulit bukan dari urat nadi, bila orang yang puasa berbekam, maka puasanya ruksak berdasarkan sabda nabi ๏ทบ,
“๐ง๐ฒ๐น๐ฎ๐ต ๐ฏ๐ฎ๐๐ฎ๐น ๐ฝ๐๐ฎ๐๐ฎ ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐บ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฒ๐ธ๐ฎ๐บ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ฒ๐ธ๐ฎ๐บ“。
(HR. Abu daud no. 2367, Ibnu Khuzaimah no. 1983, di shahihkan syaikh al-Albani rahimahullah)
Demikian juga puasa pembekam ruksak, kecuali jika ia membekamnya dengan alat yang terpisah, dan tidak butuh untuk menghisap darahnya, maka -wallahu a'lam- ia tidak membatalkan puasanya.
Semakna dengan bekam adalah mengeluarkan darah dengan melukai pembuluh darah (fashdu) atau mengeluarkannya untuk donor darah.
Adapun keluar darah karena luka, atau cabut gigi, atau mimisan maka tidak membatalkan puasa , karena bukan termasuk bekam dan tidak semakna dengannya.
๐ฑ- ๐๐ฒ๐น๐๐ฎ๐ฟ๐ป๐๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ต ๐ต๐ฎ๐ถ๐ฑ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ป๐ถ๐ณ๐ฎ๐
Sehingga bila seorang wanita melihat darah haid dan nifas maka batal puasanya, wajib untuknya mengqadha puasa berdasarkan sabda nabi ๏ทบ,
ุฃََْููุณَ ุฅِุฐَุง ุญَุงุถَุชْ َูู ْ ุชُุตَِّู ََููู ْ ุชَุตُู ْ
“๐๐๐ธ๐ฎ๐ป๐ธ๐ฎ๐ต ๐ธ๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ป๐ถ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐ฏ๐๐ ๐ต๐ฎ๐ถ๐ฑ๐ต❟ ๐ฑ๐ถ๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐๐ต๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ท๐๐ด๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ป๐ฎ๐ถ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐๐ฎ๐๐ฎ?”
(HR. Bukhari, no. 304)
๐ฒ- ๐ก๐ถ๐ฎ๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐๐ธ๐ฎ
Barangsiapa yang berniat berbuka puasa sebelum waktunya berbuka sementara dia sedang berpuasa maka puasanya batal, sekalipun ia belum makan sesuatu yang membatalkan puasa, sebab niat merupakan salah satu dari rukun-rukun puasa.
Apabila dia membatalkan niat dengan maksud untuk berbuka dan dilakukan dengan sengaja, maka puasanya batal.
๐ณ- ๐ ๐๐ฟ๐๐ฎ๐ฑ
Karena ia membatalkan ibadah.
Berdasarkan firman Allah Ta'ala,
َูุฆِْู ุฃَุดْุฑَْูุชَ ََููุญْุจَุทََّู ุนَู ََُูู
"๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐บ๐ฒ๐บ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐๐ฒ๐ธ๐๐๐๐ธ๐ฎ๐ป (๐ง๐๐ต๐ฎ๐ป)❟ ๐ป๐ถ๐๐ฐ๐ฎ๐๐ฎ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ต๐ฎ๐ฝ๐๐๐น๐ฎ๐ต ๐ฎ๐บ๐ฎ๐น๐บ๐ "
(Qs. Az-Zumar : 65)
๐ Referensi :
Kitab al-fiqhul muyassar fii dhauil kitaabi was sunnati, hal. 157-159
terbitan Daar a'lamis sunnati.
Penyusun : Tim Ulama fikih.
Dibawah arahan :
Syaikh Shalih bin 'Abdul 'Aziiz alu asy- Syaikh
Diterjemah oleh : Ustadz Abu Fahry hafizhahullah
▪️▪️▪️


Komentar
Posting Komentar