๐ŸŸก ๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ฆ๐—”๐—ก-๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ฆ๐—”๐—ก ๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐— ๐—˜๐— ๐—•๐—ข๐—Ÿ๐—˜๐—›๐—ž๐—”๐—ก ๐—ง๐—œ๐——๐—”๐—ž ๐—•๐—˜๐—ฅ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ฆ๐—” ๐——๐—œ ๐—•๐—จ๐—Ÿ๐—”๐—ก ๐—ฅ๐—”๐— ๐—”๐——๐—›๐—”๐—ก ๐——๐—”๐—ก ๐—›๐—”๐—Ÿ-๐—›๐—”๐—Ÿ ๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐— ๐—˜๐— ๐—•๐—”๐—ง๐—”๐—Ÿ๐—ž๐—”๐—ก ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ฆ๐—” ๐—ฅ๐—”๐— ๐—”๐——๐—›๐—”๐—ก

 ๐Ÿ“Panduan puasa Ramadhan

๐Ÿ“šSerial kitab Al-Fiqhul Muyassar fii Dhauil Kitab was Sunnah.


๐ŸŸก ๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ฆ๐—”๐—ก-๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ฆ๐—”๐—ก ๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐— ๐—˜๐— ๐—•๐—ข๐—Ÿ๐—˜๐—›๐—ž๐—”๐—ก ๐—ง๐—œ๐——๐—”๐—ž ๐—•๐—˜๐—ฅ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ฆ๐—” ๐——๐—œ ๐—•๐—จ๐—Ÿ๐—”๐—ก ๐—ฅ๐—”๐— ๐—”๐——๐—›๐—”๐—ก ๐——๐—”๐—ก ๐—›๐—”๐—Ÿ-๐—›๐—”๐—Ÿ ๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐— ๐—˜๐— ๐—•๐—”๐—ง๐—”๐—Ÿ๐—ž๐—”๐—ก ๐—ฃ๐—จ๐—”๐—ฆ๐—” ๐—ฅ๐—”๐— ๐—”๐——๐—›๐—”๐—ก


๐—ฏ๐—ฎ๐—ฏ ๐—ถ๐—ป๐—ถ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—ป : 


๐Ÿ”˜ ๐—•๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ : ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป-๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐˜‚๐—ฎ๐˜€๐—ฎ


๐ŸŒทBoleh tidak berpuasa dibulan Ramadhan disebabkan salah satu udzur berikut :


✓๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ : ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ถ๐˜ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ท๐˜‚๐˜ ๐˜‚๐˜€๐—ถ๐—ฎ


Orang yang sakit yang diharapkan sembuh ia boleh tidak berpuasa, lalu jika sembuh ia wajib untuk melaksanakan puasa qadha sebanyak hari dia tidak berpuasa, berdasarkan firman Allah Ta'ala :


ุฃَูŠَّุงู…ًุง ู…َّุนْุฏُูˆุฏَٰุชٍ ۚ ูَู…َู† ูƒَุงู†َ ู…ِู†ูƒُู… ู…َّุฑِูŠุถًุง ุฃَูˆْ ุนَู„َู‰ٰ ุณَูَุฑٍ ูَุนِุฏَّุฉٌ ู…ِّู†ْ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ุฃُุฎَุฑَ


(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

(Qs. Al- Baqarah : 184)


ูَู…َู† ุดَู‡ِุฏَ ู…ِู†ูƒُู…ُ ูฑู„ุดَّู‡ْุฑَ ูَู„ْูŠَุตُู…ْู‡ُ ۖ ูˆَู…َู† ูƒَุงู†َ ู…َุฑِูŠุถًุง ุฃَูˆْ ุนَู„َู‰ٰ ุณَูَุฑٍ ูَุนِุฏَّุฉٌ ู…ِّู†ْ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ุฃُุฎَุฑَ


Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.

(Qs. Al-Baqarah : 185)


๐ŸŒทSakit yang diberikan rukhsah atau keringanan untuk tidak berpuasa adalah sakit yang menambah sengsara, menambah parah sakitnya bila berpuasa.


Adapun orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya atau orang yang tidak mampu berpuasa secara permanen seperti orang lanjut usia, maka dia boleh tidak berpuasa, dan tidak wajib mengqadha, akan tetapi wajib fidyah dengan memberi makan satu orang miskin setiap harinya, karena Allah ๏ทป menjadikan amalan memberi makan itu setara dengan puasa, saat kaum muslimin boleh memilih diantara keduanya diawal puasa diwajibkan, sehingga kesimpulannya fidyah merupakan pengganti puasa ketika udzur.


๐ŸŽ“Imam al-Bukhari Rahimahullah mengatakan,

" Adapun bagi laki-laki tua yang sudah tidak mampu berpuasa, maka sungguh anas ketika sudah tua dia memberi makan satu orang miskin setiap harinya.


๐ŸŽ“Ibnu abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan tentang laki-laki dan wanita tua yang tidak mampu berpuasa " hendaknya memberi makan satu orang miskin setiap harinya."

(HR. Bukhari no. 4505)


๐ŸŒทOrang yang tidak mampu berpuasa dengan kelemahan secara permanen yang tidak bisa diharapkan hilang baik karena sakit atau karena lanjut usia hendaknya memberi makan satu orang miskin setiap harinya sebagai ganti puasanya sebanyak setengah sha' gandum, atau kurma, atau beras atau makanan pokok lainnya di suatu negri.

Satu sha' kurang lebih = 2 kilo lebih 1/4 (2,25 kg) , maka dia memberi makan orang miskin kurang lebih 1,125 kg.


Demikianlah, bila orang yang sakit tetap berpuasa, maka puasanya sah dan tetap berpahala.


Bersambung insya Allah


๐Ÿ“š Sumber :

Kitab al-fiqhul muyassar fii dhauil kitaabi was sunnati, hal. 155

terbitan Daar a'lamis sunnati.

Penyusun : Tim Ulama fikih.

Dibawah arahan :

Syaikh Shalih bin 'Abdul 'Aziiz alu asy- Syaikh


Diterjemah oleh : Abu Fahry


▪️▪️▪️



Komentar

Postingan populer dari blog ini

⚠️ ๐— ๐—จ๐—ฆ๐—œ๐—ž ๐—”๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—› ๐——๐—œ๐—”๐—ก๐—ง๐—”๐—ฅ๐—” ๐—ฆ๐—˜๐—•๐—”๐—• ๐—ง๐—จ๐—ฅ๐—จ๐—ก๐—ก๐—ฌ๐—” ๐—•๐—˜๐—ก๐—–๐—”๐—ก๐—”

Seputar kebiasaan sholat di masyarakat kita

⚠️ ๐—›๐—จ๐—ž๐—จ๐—  ๐—•๐—˜๐—ฅ๐—ž๐—จ๐—ก๐—๐—จ๐—ก๐—š ๐—ž๐—˜ ๐—ข๐—ฅ๐—”๐—ก๐—š ๐—ก๐—”๐—ฆ๐—ฅ๐—”๐—ก๐—œ ๐—จ๐—ก๐—ง๐—จ๐—ž ๐— ๐—˜๐—ก๐—š๐—จ๐—–๐—”๐—ฃ๐—ž๐—”๐—ก '๐—ฆ๐—˜๐—Ÿ๐—”๐— ๐—”๐—ง ๐—ก๐—”๐—ง๐—”๐—Ÿ'