๐ก ๐๐๐ฅ๐ ๐ฆ๐๐ข๐๐๐ง ๐๐๐ก ๐ฃ๐จ๐๐ฆ๐ ๐ ๐จ๐ฆ๐๐๐๐ฅ
Bjm Ⓜ️engaji
๐ Serial kitab fatwa-fatwa seputar puasa
๐ก ๐๐๐ฅ๐ ๐ฆ๐๐ข๐๐๐ง ๐๐๐ก ๐ฃ๐จ๐๐ฆ๐ ๐ ๐จ๐ฆ๐๐๐๐ฅ
๐Pertanyaan ke 11 :
Bagaimana cara shalat musafir dan bagaimana pula puasanya ?
Jawaban:
๐ฑShalat musafir adalah dua raka’at sejak saat dia keluar dari kampung halamannya sampai kembali kepadanya, berdasarkan kata-kata Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma.
ุฃََُّّูู ู َุง ُูุฑِุถَุชْ ุงูุตَّูุงَุฉُ ُูุฑِุถَุช ุฑَูุนَุชَِْูู َูุฃُِูุฑَุชْ ุตَูุงَุฉُ ุงูุณََّูุฑِ َูุฃُุชِู َّุชْ ุตَูุงَุฉُ ุงْูุญَุถَุฑِ
“๐๐๐ฎ๐น ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐ท๐ถ๐ฏ๐ธ๐ฎ๐ป๐ป๐๐ฎ ๐๐ต๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐ต ๐ฑ๐๐ฎ ๐ฟ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ฎ๐❟ ๐น๐ฎ๐น๐ ๐ฑ๐ถ๐๐ฒ๐๐ฎ๐ฝ๐ธ๐ฎ๐ป๐น๐ฎ๐ต ๐ต๐ฎ๐น ๐ถ๐๐ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐๐ต๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐ธ๐๐ ๐๐ฎ๐ณ๐ฎ๐ฟ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ถ๐๐ฒ๐บ๐ฝ๐๐ฟ๐ป๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ต๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐ธ๐๐ ๐บ๐๐ธ๐ถ๐บ”
(HR.Muslim no. 685, hadits dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha)
Dalam riwayat lain : “dan ditambahi untuk shalat di waktu mukim“
(HR Bukhari no.350, muslim no.693, hadits dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha)
Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata :”Kami keluar bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dari Madinah menuju Makkah, lalu beliau shalat dua rakaat dua rakaat sampai kami kembali ke Madinah”
(HR.Bukhari no. 1081, muslim no.693, hadits dari anas radhiyallahu 'anhu)
๐ฑ Akan tetapi apabila seseorang shalat bersama imam, maka ia harus menyempurnakan shalat empat rakaat, sama saja apakah dia mengikuti shalat sejak awal atau kehilangan sebagian rakaat darinya ; berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam :
‘๐๐ฝ๐ฎ๐ฏ๐ถ๐น๐ฎ ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ ๐ถ๐พ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ต ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐น๐ฎ๐ป๐น๐ฎ๐ต ๐บ๐ฒ๐ป๐๐ท๐ ๐๐ต๐ฎ๐น๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ท๐ถ๐ฏ ๐ฎ๐๐ฎ๐ ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ๐ฎ๐ป ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ด๐ฎ ๐ธ๐ฒ๐๐ฒ๐ป๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ธ๐ฒ๐๐ฒ๐ป๐๐ฟ๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป❟ ๐ท๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ฏ๐๐ฟ๐-๐ฏ๐๐ฟ๐❟ ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐๐ถ (๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ต๐ฎ๐น๐ฎ๐) ๐ธ๐ฒ๐ฟ๐ท๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐น๐ฎ๐ต ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ต๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ธ๐ฎ๐น๐ถ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐บ๐ฝ๐๐ฟ๐ป๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐น๐ฎ๐ต”
(HR. Bukhari no. 636, muslim no. 602, hadits dari abu hurairah radhiyallahu 'anhu)
๐ฑ Keumuman sabda beliau : “Apa yang kalian dapati (dari shalat) kerjakanlah sedangkan apa yang hilang dari kalian sempurnakanlah”, meliputi para musafir yang shalat di belakang imam yang mengerjakan shalat empat rakaat dan selain mereka. Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu ditanya tentang, bagaimana keadaan musafir yang shalat dua rakaat manakala bersendiri dan empat rakaat apabila bersama orang tempatan ? Dia menjawab, “itulah sunnah”.
๐ฑKewajiban shalat jama’ah tidak gugur bagi musafir, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya di dalam kondisi perang, Dia berfirman.
َูุฅِุฐَุง ُْููุชَ ِِูููู ْ َูุฃََูู ْุชَ َُููู ُ ุงูุตََّูุงุฉَ َْููุชَُูู ْ ุทَุงุฆَِูุฉٌ ู ُِْููู ْ ู َุนََู ََْูููุฃْุฎُุฐُูุง ุฃَุณِْูุญَุชَُูู ْ َูุฅِุฐَุง ุณَุฌَุฏُูุง ََُُْูููููููุง ู ِْู َูุฑَุงุฆُِูู ْ َْููุชَุฃْุชِ ุทَุงุฆَِูุฉٌ ุฃُุฎْุฑَٰู َูู ْ ُูุตَُّููุง َُْูููุตَُّููุง
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu“. [An-Nisa/4 :102]
Berdasarkan dalil ini, apabila ada seorang musafir berada di suatu daerah yang bukan daerahnya, dia wajib menghadiri shalat jama’ah di masjid ketika mendengar adzan, kecuali bila letaknya sangat jauh, atau khawatir khilangan teman-temannya, sesuai keumuman dalil yang menunjukkan pada wajibnya shalat berjama’ah bila mendengar adzan atau iqamah.
Sedangkan mengenai mengerjakan shalat sunnat ; seorang musafir boleh melaksanakan shalat sunnat selain rawatib dhuhur, ashar, maghrib dan isya, dia boleh mengerjakan shalat witir, shalat lail, shalat dhuha, shalat rawatib fajar dan selain dari itu berupa shalat sunnat selain rawatib yang dikecualikan tersebut.
Tentang menjamak (mengumpulkan shalat) : jika dia dalam keadaan berjalan (naik kendaraan) yang lebih utama adalah menjamak antara dhuhur dan ashar, antara maghrib dan isya, bisa dengan jama taqdim maupun jama takhir, melihat mana yang lebih mudah baginya, segala hal yang lebih mudah adalah lebih utama.
Jika dia dalam keadaan berhenti (tinggal di suatu daerah) yang lebih utama adalah tidak menjamak shalat, jika dia tetap menjamak maka tidak mengapa ; berdasarkan pengesahan dua hal itu dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Adapun tentang puasa musafir di bulan Ramadhan, yang lebih utama adalah dia tetap berpuasa, namun jika dia berbuka pun tidak mengapa, lalu dia mengganti jumlah hari berbukanya, kecuali jika berbuka lebih memudahkannya maka berbuka menjadi lebh utama, karena Allah menyukai orang yang menjalankan rukhshah (keringanan)nya, segala puji milik Allah Pemelihara semesta alam.
Referensi :
๐Kitab fataawa arkaanil islaam, hal. 337-338 Cet. Daarul ummati lin nasyri wat tauzii'
Karya Syaikh muhammad bin sholih al-'Utsaimin Rahimahullah.
Diterjemahkan oleh :
Ustadz abu fahry hafizhahullah
▪️▪️▪️▪️

Komentar
Posting Komentar